Cara Inovatif Petani di Kepanjen Optimalkan Lahan untuk Menyemai Padi

Reporter

Tubagus Achmad

Editor

A Yahya

16 - Feb - 2025, 11:06

Salah satu petani asli Desa Curungrejo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Gunawan saat menyemai bibit padi di halaman rumahnya. (Foto: Dok. Istimewa)

JATIMTIMES - Banyak cara untuk menghasilkan padi yang berkualitas dengan memanfaatkan lahan yang tidak terlalu luas. Salah satunya dilakukan oleh seorang petani dari Desa Curungrejo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang yakni Gunawan (42) yang menyemai bibit padi di halaman rumahnya untuk menghasilkan padi yang berkualitas. 

Gunawan menjelaskan, cara inovatif yang dilakukannya untuk menyemai bibit padi di lahan yang tidak terlalu luas yakni diawali dengan merendam benih padi hingga mengeluarkan kecambah. "Setelah berkecambah, saya letakkan di tanah kosong yang sudah dilapisi plastik bening sebagai media penyemaian," ungkap Gunawan. 

Baca Juga : Polisi Ungkap Identitas Pria Tewas Tertabrak Kereta Api di Kepanjen, Korban Lama Tak Pulang ke Rumah

Kemudian, plastik bening yang berada di atas tanah kosong tersebut ditaburi dengan tanah secara merata. Lalu benih padi ditaburkan ke atas tanah secara merata. Selanjutnya, tanah yang sudah ditebar benih padi ditutup dengan sebuah kain. Lalu, kain tersebut disiram air secara rutin setiap hari. 

Gunawan mengaku, ketika musim hujan seperti sekarang ini, dirinya tidak terlalu sering menyiram kain yang sudah ditaburi benih padi tersebut. Menurutnya, hal itu merupakan salah satu keuntungan ketika usai proses penyemaian. 

"Benih yang sudah disemai itu akan menjadi bibit dan mulai siap ditanam di umur 12 hari. Tapi kalau pas musim kemarau, bibit baru bisa ditanam di umur 15 hari," kata Gunawan. 

Melalui berbagai inovasinya di bidang pertanian, pihaknya berharap agar Pemerintah Kabupaten Malang dapat memberikan bantuan terkait pembibitan padi. Salah satunya penyediaan lahan untuk penyemaian benih padi. Pasalnya, saat ini Gunawan masih mengandalkan lahan seluas 50 meter kali 10 meter untuk penyemaian benih padi. 

Sementara itu, pihakmya menjelaskan, selama empat tahun berjalan dirinya telah menggeluti usaha penyemaian benih padi. Usaha ini dilatarbelakangi dengan peristiwa banjir. Di mana sawah miliknya yang berdekatan dengan Kalisukum selalu terendam air ketika hujan turun dengan deras. Hal itu dikarenakan air sungai meluber ke sawah. 

"Karena selalu gagal menanam padi di sawah, saya coba-coba beralih menyemai benih padi di rumah. Pertama menyemai, ia saya jual bibit ke keluarga," tutur Gunawan. 

Lalu, seiring berjalannya waktu, usaha Gunawan mulai menyebar ke kalangan petani secara luas. Para petani pun sampai ada yang membawa benih padi sendirj untuk disemai di lahan milik Gunawan. "Istilahnya petani dandakne ke sini. Nanti petani cuma bawa benih terus disemai di sini," ujar Gunawan. 

Baca Juga : Air Susu Dibalas Air Tuba, Buruh Bangunan Curi Motor meski Baru Diterima Kerja

Menurutnya, paling banyak petani memesan bibit padi sebanyak tiga kuintal per minggu. Sementara untuk lahan seluas satu hektar sawah bisa membutuhkan 45 sampai 60 kilogram bibit padi. 

"Saya jual bibit padi per gulung atau satu kilogram seharga Rp 30 ribu. Tapi kalau petani membawa benih sendiri saya jual seharga Rp 10 ribu," ungkap Gunawan. 

Lebih lanjut, konsumen dari produk atau hasil semaian Gunawan berasal dari beberapa kecamatan di Kabupaten Malang. Di antaranya petani dari Kecamatan Sumberpucung, Kepanjen, Gondanglegi, dan lain-lain. 

"Menurut para petani, cara ini dirasa efektif dibandingkan menyemai benih padi di lahan sawah. Kalau di sini kan bibit cepat hijau, nggak gampang asem-aseman. Hama juga bisa dikendalikan nggak seperti di sawah," pungkas Gunawan.