Delapan Dosen Unisma Raih Penghargaan Anugerah LPTNU 2026, Bukti Kuat Tradisi Riset Kampus

Editor

A Yahya

11 - Mar - 2026, 07:46

Delapan dosen berhasil menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang Anugerah Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) 2026 (Anggara Sudiongko/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Delapan dosen dari Universitas Islam Malang (Unisma) berhasil menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang Anugerah Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) 2026. Penghargaan yang diberikan oleh Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama ini menempatkan Unisma sebagai perguruan tinggi dengan jumlah penerima penghargaan dosen terbanyak di lingkungan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) se-Indonesia.

Rektor Unisma, Prof. Junaidi Mistar, menyampaikan bahwa delapan dosen kampus tersebut berhasil meraih posisi strategis di berbagai bidang keilmuan dalam ajang penghargaan tersebut. Capaian ini dinilai sebagai indikator kuat kualitas akademik sekaligus kontribusi ilmiah sivitas akademika Unisma di tingkat nasional.

1

“Pada kategori ilmuwan di lingkungan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama, ada delapan dosen kami yang memperoleh penghargaan di berbagai bidang. Ini menjadi capaian yang sangat membanggakan,” ujarnya, saat diwawancarai, Rabu, (11/3/2026).

Baca Juga : 2000 Pesepeda Ngabuburide Rodalink, Salurkan Sepeda untuk Anak Panti

Dalam kategori agro dan agroteknologi, Prof. Dr. Ir. H. Agus Sugianto, S.T., M.P meraih peringkat pertama. Sementara peringkat kedua di bidang yang sama diraih oleh Prof. Novi Arfarita, SP., MP., M.Sc., Ph.D.. Di bidang ilmu sosial, posisi pertama diraih oleh Hayat.

Prestasi juga diraih oleh Prof. Dr. Nour Athiroh Abdoes Sjakoer, S.Si., M.Kes. yang menempati peringkat pertama pada kategori ilmu alam dan kehidupan. Pada bidang pendidikan, Dr. Sri Wahyuni, S.Pd., M.Pd menempati peringkat ketiga.

Kemudian pada bidang kedokteran dan kesehatan, Dr. Yudi Purnomo, S.Si., Apt., M.Kes juga meraih posisi ketiga. Di bidang teknik, Dr. Ir. Hj. Eko Noerhayati, M.T menempati peringkat kedua. Sementara dalam kategori cendekiawan ilmu agama bidang fikih, Dr Shofiatul Jannah, M.H.I. memperoleh peringkat ketiga.

Menurut Prof Jun, sapaan akrab Rektor Unisma, jumlah delapan penerima penghargaan tersebut menjadikan kampus tersebut sebagai institusi dengan perolehan penghargaan terbanyak dalam ajang tersebut.

“Secara kumulatif, capaian ini menempatkan Unisma sebagai perguruan tinggi dengan jumlah dosen penerima penghargaan paling banyak dalam kategori tersebut,” kata Junaidi.

Proses seleksi penerima penghargaan dilakukan secara ketat dan berbasis data akademik. Panitia menghimpun sekitar 545 nominasi dosen dari berbagai perguruan tinggi Nahdlatul Ulama di Indonesia. Seluruh kandidat kemudian diseleksi melalui tahap verifikasi administratif dan penilaian substantif.

Basis utama penilaian menggunakan data akademik yang tercatat dalam sistem SINTA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Dari basis data tersebut, panitia menilai berbagai indikator, mulai dari dampak akademik karya ilmiah, kontribusi kepada masyarakat, relevansi terhadap pengembangan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama, hingga reputasi nasional maupun internasional para kandidat.

Selain itu, integritas personal dan keberlanjutan kontribusi ilmiah juga menjadi aspek penting dalam proses penilaian.

Salah satu penerima penghargaan, Agus Sudiyanto, mengaku tidak mengetahui proses seleksi tersebut sejak awal. Ia menyebut seluruh penilaian dilakukan sepenuhnya berdasarkan rekam jejak akademik yang tercatat dalam basis data nasional.

Baca Juga : Diskon Tol Mudik Lebaran 2026 Sampai 30%, Ini Jadwal dan Tarif Tol Jawa Golongan 1

Menurutnya, karya ilmiah yang menjadi dasar penilaian meliputi berbagai aktivitas akademik seperti penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga publikasi buku.

“Saya sendiri tidak pernah dihubungi oleh panitia sebelumnya. Semua penilaian dilakukan berbasis data. Karya-karya yang kami hasilkan selama ini sudah tercatat di sistem SINTA,” ujarnya.

Agus dikenal memiliki fokus riset pada bidang jamur konsumsi sejak awal tahun 2000. Selama lebih dari dua dekade, ia menekuni penelitian mengenai berbagai jenis jamur yang dapat dikonsumsi, baik yang dibudidayakan menggunakan media padat maupun media cair.

Selain penelitian, ia juga aktif menulis buku dan melakukan pengabdian kepada masyarakat. Hingga kini, jumlah buku yang telah ia tulis mencapai 68 judul.

Salah satu inovasi yang cukup dikenal adalah pengembangan kultur jamur berbasis media cair yang dimanfaatkan dalam produk minuman fermentasi berbasis teh.

Agus mengaku penghargaan tersebut menjadi kejutan baginya. Ia menyebut capaian tersebut sebagai bentuk pengakuan terhadap perjalanan panjangnya dalam dunia akademik. “Ini seperti kejutan bagi saya. Apalagi terjadi di malam-malam Ramadhan. Bagi saya, penghargaan ini saya persembahkan untuk Unisma,” katanya.

Ia juga menyampaikan bahwa sebagian besar perjalanan karier akademiknya berlangsung di kampus tersebut. “Saya sudah lebih dari dua dekade mengabdi di sini. Apa yang saya lakukan selama ini adalah bagian dari pengabdian saya kepada kampus yang membesarkan saya,” ujarnya.

Capaian delapan dosen tersebut memperkuat posisi Universitas Islam Malang sebagai salah satu pusat pengembangan ilmu pengetahuan di lingkungan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama. Penghargaan tersebut juga diharapkan dapat mendorong lahirnya lebih banyak karya ilmiah yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan pengembangan ilmu pengetahuan.