BMKG Ungkap 16 Wilayah Terpanas di Indonesia, Pulau Jawa Paling Mendominasi
Reporter
Mutmainah J
Editor
Nurlayla Ratri
03 - Jul - 2026, 12:28
JATIMTIMES - Cuaca panas masih terasa di berbagai wilayah Indonesia seiring meluasnya musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sedikitnya 16 wilayah mengalami suhu udara maksimum harian di atas 33 derajat Celsius pada periode 29-30 Juni 2026. Kondisi ini diperkirakan masih akan berlanjut seiring perkembangan musim kemarau pada Juli 2026.
Berdasarkan data BMKG, suhu maksimum harian berada pada kisaran 33,9 derajat Celsius hingga 35,4 derajat Celsius. Dari daftar tersebut, Pulau Jawa menjadi wilayah yang paling banyak mencatatkan suhu tinggi, dengan Banjarnegara, Semarang, Tegal, Majalengka, Madiun, Bandung, Tangerang, hingga Jakarta masuk dalam daftar.
Baca Juga : 10 Jenis Kecap Terbaik di Dunia Versi TasteAtlas 2026, dari Indonesia Masuk Empat Besar
Berikut daftar 16 wilayah dengan suhu maksimum harian tertinggi berdasarkan pengamatan BMKG periode 29-30 Juni 2026:
• Banjarnegara, Jawa Tengah (Staklim Jawa Tengah) – 35,4°C
• Semarang, Jawa Tengah (Stamet Ahmad Yani) – 35,0°C
• Semarang, Jawa Tengah (Stamet Maritim Tanjung Emas) – 34,8°C
• Berau, Kalimantan Timur (Stamet Kalimarau) – 34,7°C
• Tangerang, Banten (Stamet Budiarto) – 34,6°C
• Bulungan, Kalimantan Utara (Stamet Tanjung Harapan) – 34,4°C
• Jakarta (BBMKG Wilayah II) – 34,4°C
• Lampung Utara, Lampung (Panggung Lampung Utara) – 34,2°C
• Tegal, Jawa Tengah (Stamet Maritim Tegal) – 34,2°C
• Anambas, Kepulauan Riau (Stamet Tarempa) – 34,2°C
• Lampung (Staklim Lampung) – 34,2°C
• Majalengka, Jawa Barat (Stamet Kertajati) – 34,2°C
• Madiun, Jawa Timur (Iswahyudi TNI AU) – 34,0°C
• Palembang, Sumatera Selatan (Taman Alat Digital Staklim Sumsel) – 34,0°C
• Bandung, Jawa Barat (Husein Sastranegara TNI AU) – 34,0°C
• Jakarta (Pos Pengamatan Kemayoran) – 33,9°C
Baca Juga : Viral Curhatan Dosen Kampus di Surabaya, Gaji Kecil Tak Sebanding Beban Kerja
Data tersebut menunjukkan suhu tinggi tidak hanya terjadi di Pulau Jawa, tetapi juga meluas ke sejumlah wilayah di Kalimantan, Sumatera, hingga Kepulauan Riau. BMKG menilai kondisi ini berkaitan dengan semakin meluasnya musim kemarau yang dipengaruhi dinamika atmosfer dan fenomena iklim global.
Selain merilis daftar wilayah terpanas, BMKG juga mengungkapkan bahwa musim kemarau kini semakin meluas di berbagai daerah di Indonesia. Berdasarkan analisis Dasarian III atau 10 hari terakhir Juni 2026, wilayah yang telah memasuki musim kemarau meliputi sebagian Sumatera Utara, Jambi, Banten, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, hingga Maluku.
Memasuki awal Juli 2026, BMKG menyebut perkembangan musim kemarau masih terus berlangsung di berbagai wilayah Indonesia. Meski demikian, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi di sejumlah daerah akibat pengaruh dinamika atmosfer. Karena itu, masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem meski sebagian besar wilayah mulai memasuki musim kemarau.
BMKG juga memperkirakan puncak musim kemarau mulai terjadi pada Juli 2026 di 83 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 12,26 persen wilayah Indonesia. Wilayah yang diprediksi mulai mengalami puncak kemarau meliputi sebagian Sumatera, sebagian kecil Kalimantan, sebagian Pulau Jawa, Nusa Tenggara Timur bagian selatan, Sulawesi Barat bagian utara, Sulawesi Tengah bagian barat, sebagian Maluku, serta sebagian Papua. Sementara itu, puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September 2026.
"Perluasan musim kemarau ini sejalan dengan hasil pemantauan dinamika atmosfer pada skala global. Pada Dasarian II Juni 2026, anomali suhu permukaan laut (SST) di wilayah Nino 3.4 tercatat sebesar +1,61," tulis BMKG dalam keterangan resminya, dikutip Jumat (3/7).
Nilai tersebut mengindikasikan kondisi El Nino yang berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan di berbagai wilayah Indonesia. BMKG memperkirakan dalam beberapa hari ke depan curah hujan di sejumlah daerah berada pada kategori rendah, yakni kurang dari 50 milimeter per dasarian.
Penurunan curah huan diprakirakan terjadi di sebagian Pulau Sumatera, Banten, seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, hingga Papua. Kondisi ini semakin mempertegas bahwa musim kemarau tengah berkembang di sebagian besar wilayah Indonesia.
Tak hanya itu, BMKG menyebut peluang fenomena El Nino berkembang menjadi kategori kuat kini mencapai 98 persen, meningkat dibandingkan prakiraan sebelumnya yang berada di angka 62 persen.
Menurut BMKG, anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino 3.4 telah berada di atas ambang netral selama tujuh dasarian berturut-turut. Sementara itu, nilai Dipole Mode Index (IOD) tercatat sebesar -0,298, yang menunjukkan kondisi Samudra Hindia masih berada pada fase netral.
BMKG mengingatkan bahwa perubahan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik melalui fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO) maupun kondisi IOD dapat memengaruhi pola hujan, suhu udara, hingga meningkatkan potensi cuaca ekstrem di Indonesia.
Masyarakat diimbau untuk mewaspadai dampak cuaca panas dengan memenuhi kebutuhan cairan tubuh, mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari, serta terus memantau informasi cuaca terbaru melalui kanal resmi BMKG. Selain itu, warga juga diminta tetap waspada terhadap potensi hujan lebat yang masih dapat terjadi di sejumlah wilayah meski musim kemarau mulai meluas.
