Masyarakat Pulau Jawa, khususnya Kabupaten Tulungagung, sudah tidak asing lagi dengan kue coklat kehitaman dengan tekstur lengket dan rasa manis yang bisa ditemui di setiap acara pernikahan. Kue tersebut bernama Jenang.
Dalam tradisi Jawa, jenang menjadi kue penting dalam acara pernikahan. Kenapa kue berbahan beras ketan ini menjadi kue penting? Hal ini karena ada filosofi dan makna yang terkandung dalam jajanan tersebut.
Baca Juga : Setelah Sowan ke Leluhur Kerajaan, HUT Ke-727 Majapahit Ditutup di Trowulan
Pembuatan jenang tidaklah sebentar. Pembuatannya bisa memakan waktu berjam-jam. Lamanya proses pembuatan jenang mengandung harapan pernikahan akan berlangsung lama atau langgeng.
"Sifat beras ketan yang lengket mengandung harapan agar pengantin senantiasa lengket atau memiliki hubungan erat dan susah dipisahkan," jelas Mbah Slamet, tokoh masyarakat yang pernah aktif dalam kesenian Ketoprak di Tulungagung. Rabu (9/12/2020).
Ditambahkan olehnya, proses pembuatan jenang membutuhkan waktu yang lama dan kesabaran. Serta memerlukan kerja sama beberapa orang. Hal ini menyimbolkan harapan agar pasangan saat menikah nanti tidak mudah putus asa dalam membangun dan mengarungi rumah tangga. Harapannya pasangan pengantin selalu bekerja sama dan saling mendukung satu sama lain dalam suka dan duka.
“Selalu ada hal menarik dan nilai-nilai luhur yang bisa dipetik dari sebuah tradisi. Makna dan filosofi jenang mengandung kebaikan-kebaikan yang diharapkan bisa didapatkan oleh pasangan yang akan mengarungi bahtera rumah tangga,” ucap Mbah Slamet.
Hal yang sama dikatakan Mahmud salah satu warga di Kecamatan Boyolangu. Meskipun jenang bukan makanan wajib di pesta pernikahan, tetapi populer sebagai simbol kebersamaan.
Baca Juga : Angkat Tema Trantanan, Getih Getah Gula Kelapa Candi Simping Diisi Kegiatan Doa Budaya
Sudah menjadi tradisi ketika ada warga yang menggelar pesta pernikahan, para tetangga bergotong royong membantu si empunya hajat untuk memasak dan menyiapkan makanan. Jika kaum wanita sibuk memasak nasi dan lauk pauk, maka bapak-bapaknya sibuk membuat jenang.
Selain rasa manis dan tekstur yang lembut, menurut Mahmud, keistimewaan dari jenang adalah rasa kebersamaan dan gotong royong saat proses membuat jenang itu. Nuansa tradisi itulah yang menjadikan jenang lebih nikmat dari jajanan lainnya.
