free web hit counter
Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Hiburan, Seni dan Budaya

Jenang, Kue yang Selalu Hadir dalam Acara Pernikahan, Ini Filosofinya

Penulis : Muhamad Muhsin Sururi - Editor : Dede Nana

09 - Dec - 2020, 22:13

Placeholder
Proses pembuatan Jenang yang memerlukan kerjasa sama beberapa orang.

Masyarakat Pulau Jawa, khususnya Kabupaten Tulungagung, sudah tidak asing lagi dengan kue coklat kehitaman dengan tekstur lengket dan rasa manis yang bisa ditemui di setiap acara pernikahan. Kue tersebut bernama Jenang. 

Dalam tradisi Jawa, jenang menjadi kue penting dalam acara pernikahan. Kenapa kue berbahan beras ketan ini menjadi kue penting? Hal ini karena ada filosofi dan makna yang terkandung dalam jajanan tersebut.

Baca Juga : Setelah Sowan ke Leluhur Kerajaan, HUT Ke-727 Majapahit Ditutup di Trowulan

Pembuatan jenang tidaklah sebentar. Pembuatannya bisa memakan waktu berjam-jam. Lamanya proses pembuatan jenang mengandung harapan pernikahan akan berlangsung lama atau langgeng.

"Sifat beras ketan yang lengket mengandung harapan agar pengantin senantiasa lengket atau memiliki hubungan erat dan susah dipisahkan," jelas Mbah Slamet, tokoh masyarakat yang pernah aktif dalam kesenian Ketoprak di Tulungagung. Rabu (9/12/2020).

Ditambahkan olehnya, proses pembuatan jenang membutuhkan waktu yang lama dan kesabaran. Serta memerlukan kerja sama beberapa orang. Hal ini menyimbolkan harapan agar pasangan saat menikah nanti tidak mudah putus asa dalam membangun dan mengarungi rumah tangga. Harapannya pasangan pengantin selalu bekerja sama dan saling mendukung satu sama lain dalam suka dan duka.

“Selalu ada hal menarik dan nilai-nilai luhur yang bisa dipetik dari sebuah tradisi. Makna dan filosofi jenang mengandung kebaikan-kebaikan yang diharapkan bisa didapatkan oleh pasangan yang akan mengarungi bahtera rumah tangga,” ucap Mbah Slamet.

Hal yang sama dikatakan Mahmud salah satu warga di Kecamatan Boyolangu. Meskipun jenang bukan makanan wajib di pesta pernikahan, tetapi populer sebagai simbol kebersamaan.

Baca Juga : Angkat Tema Trantanan, Getih Getah Gula Kelapa Candi Simping Diisi Kegiatan Doa Budaya

Sudah menjadi tradisi ketika ada warga yang menggelar pesta pernikahan, para tetangga bergotong royong membantu si empunya hajat untuk memasak dan menyiapkan makanan. Jika kaum wanita sibuk memasak nasi dan lauk pauk, maka bapak-bapaknya sibuk membuat jenang.

Selain rasa manis dan tekstur yang lembut, menurut Mahmud, keistimewaan dari jenang  adalah rasa kebersamaan dan gotong royong saat proses membuat jenang itu. Nuansa tradisi itulah yang menjadikan jenang lebih nikmat dari jajanan lainnya. 

 


Topik

Hiburan, Seni dan Budaya



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Trenggalek Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Muhamad Muhsin Sururi

Editor

Dede Nana