Polemik Strategi "Panglima vs Mayor" kala Gugatan Partai Demokrat Kubu Moeldoko Ditolak PN Jakpus | Trenggalek TIMES

Polemik Strategi "Panglima vs Mayor" kala Gugatan Partai Demokrat Kubu Moeldoko Ditolak PN Jakpus

May 06, 2021 09:43
Moeldoko dan AHY (Foto: Tribunnews)
Moeldoko dan AHY (Foto: Tribunnews)

INDONESIATIMES - Polemik Partai Demokrat (PD) kubu Moeldoko vs Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) rupanya belum berakhir. Kini babak baru pun muncul setelah gugatan kubu Moeldoko terkait AD/ART PD ditolak oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus). 

Dalam hal ini, strategi “panglima purnawiranan” Moeldoko disebut lebih jitu daripada “mantan mayor” AHY. 

Baca Juga : Siapakah Sosok Wanita Penyair yang Dipuji Rasulullah?

Perselisihan ini dimulai oleh juru bicara kubu Moeldoko, Muhammad Rahmad. Ia menjelaskan terkait ditolaknya gugatan mereka di PN Jakpus memang sudah dicabut oleh kubu Moeldoko.

"Gugatan yang digugurkan PN Jakarta Pusat itu sesungguhnya adalah gugatan yang telah dicabut oleh para penggugat pada tanggal 16 April 2021 lalu. Karena gugatan tersebut telah dicabut penggugat, maka wajar jika kemudian gugatan itu menjadi gugur," kata dia. 

 Tak cuma itu. Rahmad juga menyebut saat itu ada materi gugatan penting lainnya yang dimasukkan ke dalam gugatan. "Pencabutan gugatan dilakukan atas permintaan penggugat sendiri karena ada tiga orang penggugat yang menarik gugatannya. Lagi pula pada saat itu ada materi gugatan penting yang belum sempat dimasukkan ke dalam gugatan. Oleh karena itu, gugatan kami terhadap AD ART 2020 jalan terus dan bahkan jumlah penggugatnya sekarang menjadi lebih banyak dan bahkan ada gugatannya yang langsung dilakukan oleh ketua-ketua DPC," lanjut Rahmad dalam keterangannya.

"Gugatan terhadap AD ART 2020 yang sekarang sedang berjalan di PN Jakarta Pusat adalah gugatan Ketua DPC Halmahera Utara ke kubu AHY. Ketua-ketua DPC lainnya juga sedang antre menggugat AHY ke PN Jakarta Pusat. Yang digugat adalah keabsahan AD/ART 2020 dan keabsahan pemecatan oleh kubu AHY," tambahnya lagi. 

Ia bahkan menyinggung ungkapan Wasekjen Partai Demokrat Irwan yang sempat menyebut kubu Moeldoko hanya pepesan kosong. Saat itulah, Rahmad membandingkan strategi yang dimiliki “panglima purnawirawan” Moeldoko dengan “mantan mayor” AHY terkait gugatan itu.

"Strategi tempur seorang eks mayor kubu AHY yang belum pernah bertempur tentu akan kalah jauh dari strategi tempur seorang panglima, jenderal bintang empat, DPP Partai Demokrat pimpinan Moeldoko. Karena itu, terlalu prematur bagi kubu AHY untuk menyebut DPP Partai Demokrat pimpinan Jenderal Meoldoko adalah pepesan kosong. Bagi kami, ini baru latihan pemanasan," kelakar Rahmad. 

Tanggapan Partai Demokrat

Baca Juga : Sejarah Es Batu Pertama Masuk Indonesia yang Bikin Heboh pada 1846

Partai Demokrat pun menanggapi tudingan strategi “panglima purnawirawan” Moeldoko lebih jitu dari “mantan mayor” AHY ini. Ketua Bappilu Partai Demokrat Andi Arief menilai anggapan itu justru menunjukkan kubu Moeldoko seperti sedang stres. "Biarin pada stres sendiri karena kurang pengetahuan," kata dia.

Andi juga menanggapi ungkapan kubu Moeldoko secara dingin. Dia bahkan menertawakan apa yang disampaikan oleh kubu Moeldoko. "Ha-ha-ha...," selorohnya.

Sementara, Kepala BPOKK Partai Demokrat Herman Khaeron tak mempersoalkan klaim kubu Moeldoko yang menyebut antrean ketua DPC siap menggugat Partai Demokrat dan AHY. Herman menegaskan gugatan kubu Moeldoko tak memiliki landasan hukum.

Selebihnya, Partai Demokrat mengaku tak bergetar oleh ancaman gugatan dari kubu Moeldoko. Herman yakin Demokrat akan memenangi tiap pertempuran di pengadilan yang dilancarkan kubu Moeldoko.

Topik
polemik partai demokrat moeldoko Agus harimurti yudhoyono

Berita Lainnya