JATIMTIMES – Kota Batu menyadari posisinya yang bukan merupakan sentra penghasil untuk beberapa komoditas penting seperti bawang merah, ayam, dan telur. Untuk menjamin ketersediaan stok, Diskumperindag Kota Batu mengoptimalkan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) dengan sejumlah wilayah di Jawa Timur maupun luar pulau.
Sekretaris Diskumperindag Kota Batu, Nurbianto Pujo, menyebutkan bahwa pihaknya kini tengah intens menjalin komunikasi dengan daerah-daerah mitra seperti Blitar, Kota dan Kabupaten Mojokerto, hingga Samarinda. Kerja sama ini menjadi kunci untuk menutup defisit pangan di Kota Batu.
Baca Juga : Graha Bangunan Blitar Hadirkan Promo Kilau Ramadan dengan Bonus Sirup dan Biskuit
"Kita punya KAD yang harus dimanfaatkan. Misalnya untuk kebutuhan protein dan telur, kita bisa koordinasi dengan Blitar yang memang sentranya. Jadi kita lihat apa yang kita butuhkan, lalu kita ambil dari daerah mitra tersebut," katanya saat ditemui JatimTIMES, belum lama ini.
Skema KAD ini bersifat saling menguntungkan (mutual benefit). Di satu sisi, Kota Batu memasarkan produk hortikultura unggulannya ke luar daerah, namun di sisi lain Batu juga membeli komoditas yang tidak diproduksi secara maksimal di wilayah sendiri.
Seperti halnya permainan telur unggas di Kota Batu, di mana laporan badan pusat statistik menyebut produksi telur di Kota Batu hanya 15-20 persen dari kebutuhan yang ada. Oleh karenanya KAD untuk komoditas tersebut harus mengandalkan daerah seperti Blitar yang mampu produksi telur hingga 152 ribu ton lebih per tahun.
Pria yang akrab disapa Kentor itu mengungkapkan, kebutuhan telur kota batu sekitar 96.000 butir per hari, atau sekitar 6.000 Kilogram. Produksi telur peternak kota batu diketahui 30.000 butir per hari atau 1.875 Kilogram. Sehingga masih ada kekurangan 66.000 butir atau 4.125 kilogram. Kekurangan inilah yang disuplai oleh daerah lain. "Hitungan diatas hanya hari hari biasa. Jika menghitung sektor pariwisata bisa melonjak hingga 20-30 persen karena ditambah kebutuhan wisatawan," terangnya.
Ia menyebut, koordinasi dengan daerah mitra ini juga dibarengi dengan pemetaan sebaran barang. Hal ini penting agar pasokan yang datang benar-benar merata dan tidak menumpuk di satu titik, yang bisa menyebabkan anomali harga di pasar-pasar tradisional Kota Batu.
Baca Juga : Stok BBM Nasional Terjaga, Masyarakat Diminta Tidak Terjebak Panic Buying
"Pertanian juga punya daftar daerah kerja sama. Kita manfaatkan hubungan tersebut untuk memangkas rantai distribusi. Dengan KAD, kita bisa mendapatkan akses langsung ke produsen atau distributor besar di daerah asal," tambahnya.
Dikatakannya, KAD diharapkan menjadi solusi dalam menjaga ketahanan pangan di Kota Batu. Tidak hanya saat terjadi gejolak harga, namun juga dalam menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang antara daerah produsen dan daerah konsumen seperti Kota Batu yang saat ini didominasi sektor jasa dan wisata. Meski pertanian masih unggul di komoditas hortikultura.
Menurutnya, langkah ini juga dilakukan sebagai upaya preventif menghadapi perayaan hari besar keagamaan nasional, seperti hari raya idulfitri. "Dengan adanya komitmen pasokan dari daerah mitra, risiko kelangkaan barang akibat rebutan stok antar daerah bisa diminimalisir," tutup Kentor.
