Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Tasyakuran Purnawiyata MAN 1 Kota Malang Diwarnai Pesan Keras soal Adab, Ilmu dan Ambisi Dunia

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Yunan Helmy

25 - May - 2026, 17:06

Placeholder
Tasyakuran Purnawiyata MAN 1 Kota Malang tahun ajaran 2025-2026. Tampak Kepala MAN 1 Kota Malang Dr Sutirjo SPd MPd bersalaman dan memberikan selamat kepada para lulusan. (Anggara Sudiongko/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Di tengah euforia kelulusan dan pengumuman masuk perguruan tinggi, Tasyakuran Purnawiyata Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kota Malang Tahun Ajaran 2025-2026 di Graha Cakrawala UM, Senin (25/5/2026), justru memunculkan pesan yang lebih dalam daripada sekadar seremoni pelepasan siswa. Para pejabat pendidikan dan tokoh madrasah menyoroti kecenderungan generasi muda yang dinilai mulai mengukur kesuksesan hanya dari capaian materi, gelar, hingga status sosial.

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Malang Achmad Shamptonnsecara terbuka mengingatkan para siswa agar tidak terjebak pada orientasi duniawi setelah lulus dari madrasah. Dalam sambutannya, ia menyinggung fenomena masyarakat yang menganggap keberhasilan identik dengan kekayaan dan pengakuan sosial.

7

“Kesuksesan itu tidak hanya sekadar sukses dunia,” katanya singkat di hadapan ratusan siswa dan wali murid.

Baca Juga : Lomba Mural Polresta Malang Kota Jadi Media Kritik Sosial dan Ekspresi Kreatif

Ia kemudian mengutip Surat At-Takasur yang menurutnya relevan dengan kondisi sosial saat ini. Achmad Sampton menyebut budaya pamer kekayaan dan perlombaan status telah membuat banyak orang kehilangan arah utama pendidikan. Menurut dia, semangat mencari ilmu perlahan tergeser oleh ambisi mengejar dunia tanpa batas.

“Orang yang sudah merasakan nikmatnya ilmu akan terus belajar. Tapi pemburu dunia tidak pernah kenyang,” ujarnya.

1

Pernyataan itu muncul di tengah momentum penting bagi siswa kelas XII MAN 1 Kota Malang yang sedang menunggu hasil UTBK dan proses masuk perguruan tinggi. Dari total 362 siswa, sebanyak 63 siswa atau sekitar 24 persen telah diterima di berbagai perguruan tinggi melalui jalur prestasi dan seleksi awal. Sebanyak 51 siswa di antaranya lolos melalui jalur SNBP.

6

Kepala MAN 1 Kota Malang Dr Sutirjo SPd MPd mengatakan pihak sekolah sengaja membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada angka akademik. Ia menilai tekanan terhadap capaian nilai dan kompetisi yang terlalu keras justru dapat menghilangkan ruang tumbuh siswa sebagai manusia.

“Tidak selalu dengan angka. Yang penting anak bahagia dan menjadi rumah bagi mereka,” katanya.

Menurut Sutirjo, pendidikan di madrasah harus memberi ruang bagi siswa untuk berkembang sesuai bakat dan karakter masing-masing. Ia menyebut siswa saat ini membutuhkan lingkungan belajar yang sehat dan inklusif agar mampu menghadapi tantangan sosial yang semakin kompleks.

“Anak-anak harus tumbuh menjadi pribadi tangguh, kreatif, dan mampu memberi solusi,” ujarnya.

4

Pesan serupa juga disampaikan Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur Akhmad Sruji Bahtiar. Dalam pidatonya, ia banyak mengutip pemikiran Imam Al-Ghazali tentang pentingnya meluruskan niat dalam mencari ilmu.

Ia menyoroti fenomena pendidikan modern yang sering kali hanya menjadikan ijazah sebagai target akhir. Padahal, menurut dia, ilmu seharusnya menjadi jalan menghilangkan kebodohan dan menghadirkan manfaat bagi orang lain.

3

“Belajar bukan untuk mengalahkan teman atau mencari pujian,” katanya.

Baca Juga : Pengumuman SNBT 2026 Jam Berapa? Ini Jadwal, Link Cek Hasil, dan Cara Unduh Sertifikat

Akhmad juga mengingatkan pentingnya adab dalam pendidikan. Ia menilai krisis etika di dunia pendidikan mulai terlihat ketika kecerdasan tidak lagi diiringi penghormatan kepada guru maupun ilmu itu sendiri.

“Ilmu tanpa adab seperti pedang di tangan orang gila,” ujarnya mengutip Imam Al-Ghazali.

Ia bahkan menyinggung persoalan sosial yang lebih luas, mulai dari budaya pamer, iri hati, hingga kebiasaan menyebarkan fitnah dan gibah di tengah masyarakat. Menurut dia, pendidikan agama seharusnya tidak berhenti pada hafalan dan capaian akademik, tetapi membentuk kesadaran moral serta empati sosial.

“Kalau pintar tapi sombong, sesungguhnya dia tidak punya ilmu,” katanya.

Di tengah berbagai pidato reflektif itu, suasana acara tetap berlangsung hangat. Sesekali para siswa tertawa ketika panitia dan pejabat madrasah menyisipkan kuis untuk menguji pengetahuan keagamaan siswa. Namun di balik suasana santai tersebut, pesan yang muncul justru cukup keras: pendidikan tidak boleh kehilangan ruhnya hanya karena perlombaan prestasi dan ambisi ekonomi.

 


Topik

Pendidikan MAN 1 Kota Malang purnawiyata siswa pendidikan agama



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Trenggalek Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Yunan Helmy