Metode sorogan merupakan metode belajar mengaji yang paling kuno warisan pondok pesantren. Sampai hari ini, metode sorogan itu masih dipertahankan di beberapa lembaga pendidikan Islam.
“Ada banyak pondok salaf dan pondok Alquran di Nusantara yang masih menjaga tradisi ini. Ada juga yang mengembangkan dengan formulasi-formulasi baru,” ungkap Faqih, salah satu ustad di Madrasah Diniah di Tulungagung.
Sorogan merupakan metode belajar dengan cara murid berhadapan langsung dengan guru. Metode ini tentu memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. “Untuk metode sorogan, kekurangannya mungkin akan membutuhkan waktu lama. Murid harus antre satu persatu untuk disimak ustad,” jelas Faqih.
Ustad yang sempat memperoleh beasiswa hafiz ini menambahkan, ternyata bacaan atau pemahaman santri selama persiapan sorogan, jika salah, bisa langsung didengarkan oleh ustad dan bisa langsung dibenarkan. “Kesalahan pemahaman kita setelah ditegur dan diarahkan oleh ustad atau kiai akan membekas dalam ingatan kita,” katanya.
Hal tersebut mungkin ada kaitannya dengan long term memory atau memori jangka panjang. Hal ini yang membuat ingatan lebih lama karena memiliki sisi yang berkesan di dalam hidup kita. (*)
