Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Ekonomi

Harga Plastik Melonjak hingga 70 Persen, Ini 9 Alternatif Murah dan Ramah Lingkungan

Penulis : Mutmainah J - Editor : Nurlayla Ratri

08 - Apr - 2026, 06:24

Placeholder
Ilustrasi plastik. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Lonjakan harga plastik terjadi secara signifikan pada April 2026, bahkan mencapai kenaikan 30 hingga 70 persen. Kondisi ini dipicu oleh terganggunya pasokan bahan baku utama plastik, yakni nafta, akibat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan laporan To Vima, gangguan distribusi energi global terutama di jalur strategis Selat Hormuz berdampak besar terhadap pasokan minyak dan komoditas penting lainnya. Efek berantai pun terasa hingga ke industri petrokimia, yakni sektor yang mengolah minyak dan gas bumi menjadi berbagai bahan turunan, termasuk plastik.

Baca Juga : Perbaikan Jalan Gondanglegi-Balekambang 60 Persen, DPUBM Kabupaten Malang Usulkan Tambahan PJU 

Kenaikan harga minyak mentah yang mencapai sekitar 47 persen turut mendorong lonjakan harga bahan baku plastik seperti polipropilena, yang naik sekitar 24 persen. Padahal, material ini banyak digunakan untuk kemasan makanan, wadah rumah tangga, hingga produk sehari-hari. Selain itu, jenis plastik lain seperti polietilen (PE), yang umum digunakan untuk kantong kresek dan botol, juga ikut terdampak.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut ketergantungan Indonesia terhadap impor nafta menjadi salah satu penyebab utama. Sekitar 60 hingga 70 persen kebutuhan bahan baku plastik masih bergantung dari luar negeri.

“Nafta itu kita impor dari Timur Tengah. Jadi kita terdampak dari bahan baku yang kita impor,” ujar Budi Santoso, dikutip dari ANTARA, Rabu (7/4/2026).

Nafta sendiri merupakan turunan minyak bumi yang digunakan dalam produksi resin plastik, karet, hingga pelarut. Ketika pasokan tersendat, biaya produksi meningkat dan berimbas langsung pada harga plastik di pasaran, termasuk kantong kresek yang kini semakin mahal.

Alternatif Pengganti Plastik yang Bisa Digunakan

Di tengah kenaikan harga ini, sejumlah bahan alternatif mulai dilirik sebagai pengganti plastik, baik oleh pelaku usaha maupun masyarakat umum. Berikut beberapa di antaranya:

1. Kantong Kertas

Menurut Green Business Benchmark, kantong kertas menjadi salah satu pilihan populer karena mudah terurai dan bisa didaur ulang. Selain itu, kantong ini dapat digunakan kembali selama kondisinya masih baik.

Namun, kantong kertas memiliki kelemahan, seperti tidak tahan air dan mudah robek, terutama jika tanpa lapisan tambahan. Proses produksinya juga membutuhkan energi cukup besar sehingga tidak sepenuhnya bebas dampak lingkungan.

2. Goodie Bag (Tas Kain)

Tas kain semakin banyak digunakan di supermarket dan restoran. Bahannya kuat dan mampu menampung beban cukup berat.

Kekurangannya, beberapa jenis bahan seperti polipropilena sulit terurai. Agar lebih ramah lingkungan, tas ini harus digunakan berulang kali dalam jangka panjang, bukan sekali pakai.

3. Daun Pisang

Di Indonesia, daun pisang sudah lama dimanfaatkan sebagai pembungkus makanan tradisional seperti lontong, tempe, hingga lemper. Selain mudah ditemukan, daun ini juga memberikan aroma khas pada makanan.

Praktik penggunaan daun pisang bahkan diterapkan di supermarket di Chiang Mai, Thailand, seperti dilaporkan Bangkok Post, dengan teknik pembungkusan sederhana menggunakan tali bambu.

4. Daun Jati

Daun jati kerap digunakan sebagai pembungkus makanan di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, sebagaimana disebutkan dalam publikasi Kementerian Pariwisata.

Meski ramah lingkungan, ukurannya terbatas sehingga sering membutuhkan beberapa lembar daun sekaligus.

Baca Juga : Bupati Sanusi Terbitkan SE untuk Atur WFH ASN Setiap Hari Jumat, Wajib Foto Selfie Tiga Kali

5. Daun Talas

Alternatif lain datang dari daun talas yang cukup kuat untuk membungkus makanan berukuran besar. Penggunaannya banyak ditemukan di wilayah Sumatera.

6. Kulit Jagung (Klobot)

Mengacu pada jurnal Ekobis Adimas, kulit jagung merupakan bahan kemasan tradisional yang murah dan mudah terurai. Biasanya digunakan untuk membungkus makanan seperti dodol atau wajik.

Kelemahannya, ukuran kecil dan perlu proses pengolahan sebelum digunakan.

7. Besek (Anyaman Bambu)

Besek adalah wadah tradisional berbahan bambu yang dianyam. Berdasarkan penelitian “Analisis Peran Kerajinan Besek sebagai Warisan Budaya Lokal Desa Bener Purworejo” oleh Arindi dkk, besek dikenal kuat, ramah lingkungan, dan relatif terjangkau.

Namun, bentuknya yang kaku tanpa pegangan membuatnya kurang praktis dibawa.

8. Bongsang

Masih dari bahan bambu, bongsang memiliki bentuk seperti keranjang dengan rongga lebih besar. Umumnya digunakan sebagai wadah tahu, buah, atau umbi-umbian.

Meski lebih mudah dibawa dibanding besek, bongsang kurang cocok untuk barang berukuran kecil tanpa tambahan alas.

9. Bioplastik

Bioplastik menjadi alternatif modern yang memiliki karakteristik mirip plastik konvensional. Menurut jurnal “The Future of Bioplastics in Food Packaging: An Industrial Perspective” oleh Ghasemlou dkk, bioplastik dibuat dari bahan terbarukan seperti pati.

Beberapa jenis seperti TPS, PLA, dan PBAT dapat terurai secara alami. Namun, harga bioplastik masih relatif mahal dan daya simpannya lebih pendek dibanding plastik biasa.

Kenaikan harga plastik tidak hanya berdampak pada pelaku usaha, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat. Penggunaan alternatif ramah lingkungan perlu diiringi edukasi agar tidak sekadar menjadi tren, melainkan kebiasaan jangka panjang.

Dengan berbagai pilihan yang tersedia, masyarakat dan pelaku usaha dapat mulai beralih ke bahan yang lebih berkelanjutan, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap plastik berbasis minyak bumi.


Topik

Ekonomi alternatif bungkus plastik harga plastik naik



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Trenggalek Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Nurlayla Ratri