JATIMTIMES - Gelombang panas yang melanda sejumlah negara Eropa memunculkan pemandangan tak biasa di Kota Bern, Swiss. Di saat suhu udara menembus lebih dari 35 derajat Celsius, banyak pekerja memilih mengakhiri hari kerja dengan cara unik, yakni berenang menyusuri Sungai Aare untuk pulang ke rumah.
Tradisi tersebut belakangan ramai diperbincangkan setelah videonya beredar di media sosial, salah satunya diunggah akun TikTok @aliawan198. Dalam video itu, terlihat warga berada di salah satu jembatan Sungai Aare. Sebagian melompat langsung ke air, sementara lainnya memilih menyusuri sungai menggunakan perahu karet.
Baca Juga : Imbauan Dilarang Buang Sampah Tak Digubris, Sampah Justru Menumpuk di Muharto
Bagi masyarakat Bern, kebiasaan itu bukan sekadar cara menyegarkan tubuh saat cuaca panas. Berenang di Sungai Aare telah menjadi bagian dari budaya lokal selama bertahun-tahun.
Bahkan, banyak pekerja memanfaatkan derasnya arus sungai sebagai jalur pulang yang dinilai lebih praktis dan menghemat waktu.
Seorang warga setempat mengaku hampir setiap hari pulang kerja dengan mengikuti arus Sungai Aare. Menurutnya, perjalanan pulang menjadi jauh lebih singkat dibanding menggunakan jalur darat.
Sebagian besar kantor dan toko di Swiss diketahui tutup sekitar pukul 16.00 waktu setempat. Seusai bekerja, warga yang sudah membawa perlengkapan renang langsung menuju tepian sungai untuk memulai perjalanan pulang. Para pekerja biasanya juga membawa tas tahan air atau dry bag yang juga bisa dimanfaatkan sebagai pelampung.
Lokasi viral yang tersebar di media sosial igi diduga adalah Jembatan Schönausteg. Jembatan baja dengan bentang sekitar 55 meter itu setiap sore dipenuhi warga yang bersiap berenang.
Sebagian orang memilih melompat dari sisi jembatan setelah memastikan kondisi di bawah aman dan tidak membahayakan perenang lain. Sementara yang lain turun melalui tangga batu di tepi sungai sebelum mengikuti arus menuju titik tujuan masing-masing. Ada pula warga yang menggunakan perahu karet sebagai alternatif.
Sungai Aare sendiri memiliki karakter arus yang cukup kuat. Pada musim panas, kecepatan arus umumnya berkisar 3 hingga 5 kilometer per jam, bahkan dapat meningkat hingga sekitar 12 kilometer per jam setelah hujan deras. Karena itu, warga lokal umumnya telah memahami titik masuk dan lokasi aman untuk keluar dari sungai.
Duta Besar RI untuk Swiss, Ngurah Swajaya, mengatakan kebiasaan tersebut sudah menjadi rutinitas masyarakat Bern saat musim panas.
"Biasanya warga lokal itu, pulang kerja, pulangnya 'nyemplung' saja ke Aare. Dia ikuti arus. Pakaian kerjanya dilipat, dimasukkan tas yang juga jadi pelampung," ujar Ngurah, dikutip Kompascom, Kamis (2/6/2026).
Baca Juga : Juni 2026: 6 Negara Eropa dengan Suhu Terpanas, Apakah Indonesia Berisiko Mengalami Hal Serupa?
Ia juga menjelaskan bahwa warga memiliki aplikasi khusus untuk memantau kondisi sungai sebelum berenang.
"Bahkan buat warga lokal, ada aplikasi khusus buat mengecek keadaan Aare sebelum berenang. Nama aplikasinya Aare Guru. Warga lokal tahu kapan berenang, di titik mana yang aman, serta suhu dan kondisi cuaca," lanjutnya.
Sebagai informasi, Swiss menjadi salah satu negara yang terdampak gelombang panas atau heatwave yang melanda Eropa dalam beberapa hari terakhir.
Di Kota Bern, suhu udara sempat mencapai sekitar 35 derajat Celsius. Namun suhu yang dirasakan tubuh (feels like) dilaporkan bisa mendekati 40 derajat Celsius. Pemerintah setempat bahkan mengirimkan notifikasi kepada masyarakat agar membatasi aktivitas di luar ruangan saat siang hari.
Mengutip Reuters, lembaga meteorologi Swiss, MeteoSwiss, telah menaikkan status peringatan gelombang panas ke level tinggi di sejumlah wilayah. Suhu di beberapa kota berada pada kisaran 34 hingga 38 derajat Celsius. Kota Basel bahkan mencatat rekor suhu tertinggi untuk bulan Juni.
Para ilmuwan menjelaskan fenomena panas ekstrem tersebut dipicu pola atmosfer Omega Block, yakni kondisi ketika massa udara panas terjebak di suatu wilayah selama beberapa hari. Dampak perubahan iklim juga dinilai membuat kejadian gelombang panas seperti ini semakin sering terjadi.
Berbeda dengan negara tropis, sebagian besar rumah, apartemen, hotel hingga restoran di Swiss tidak dilengkapi pendingin ruangan atau AC karena suhu musim panas biasanya masih berada di bawah 30 derajat Celsius.
